Spiga

Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Katakan "Tidak" pada korupsi...


Tanggal 9 Desember kemarin, sebenarnya saya nggak tahu kalo ada Hari Anti-Korupsi se-dunia, baru kemudian pada siangnya saya buka - buka koran lagi ( Saya langganan Jawa Pos ) dan pada halaman ketiga ada sebuah iklan politik atau apapun-lah dikatakannya tentang Korupsi oleh Partainya Pak SBY. Iklannya menyuruh mengatakan "TIDAK" pada setiap hal yang berkaitan dengan korupsi.

Yang membuat menarik adalah....


Di halaman kedua koran tersebut ada sebuah kolom guyonan yang membuat saya kemudian terpingkal - pingkal membacanya. Yaitu sebuah surat pembaca mengenai Korupsi tersebut dan dukungannya untuk memberantas korupsi, nah, kemudian di samping surat pembaca tersebut ada sebuah kartun yang menggambarkan seorang pejabat membawa poster " Katakan Tidak pada Korupsi ", kemudian ditanya oleh seseorang yang digambarkan sebagai seorang rakyat biasa " Tidak apa pak ? ". Dijawabnya.... " TIDAK KEBAGIAN....." ( wakakakakaka... )

Marai ngguyu wae cah....

Baca Selengkapnya......

Momentum Kebangkitan Nasional yang MEMALUKAN.... !!!

Di berbagai media, di tengah kesulitan hidup yang kian melilit rakyat, di tengah kemiskinan yang kian menjadi, di tengah keputus-asaan rakyat banyak yang kian membuncah, di tengah himpitan kemelaratan, di tengah pesta korupsi dan mark-up anggaran negara (baca: uang rakyat) yang dilakukan para pejabat negara, memasuki bulan Mei 2008 bangsa ini dicekoki dengan ‘Momentum 1 Abad Kebangkitan Nasional’. Hal ini tentunya dikaitkan dengan berdirinya organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908.

Jika salah satu syair dari Taufiq Ismail berjudul “Malu Aku Jadi Orang Indonesia’, maka sekarang ini judul syair tersebut bertambah relevan. Betapa memalukannya sebuah bangsa yang katanya besar ternyata masih saja salah menetapkan tonggak kebangkitannya sendiri. Dan parahnya, hal ini ternyata didukung oleh tokoh-tokoh dan partai Islam yang seharusnya menjadi agen pencerahan bangsa.

Misal salah satunya, sebuah partai politik Islam besar akhir April lalu memasang sebuah iklan hitam putih seperempat halaman di sebuah harian ternama nasional. Dalam iklan tersebut, partai ini dengan tanpa malu memuat ‘Momentum 1 Abad Kebangkitan Nasional: Harapan Itu Masih Ada”. Disadari atau tidak, iklan ini telah ikut meracuni pemikiran generasi muda bangsa dengan ikut-ikutan latah menyiarkan kedustaan dan kesalahan yang fatal. Padahal partai ini kebanyakan diisi oleh orang-orang muda yang katanya intelek. Namun kenyataan yang terjadi sungguh memalukan!

Sayyid Quthb di dalam “Tafsir Baru Atas Realitas” (1996) menyatakan orang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup adalah sama dengan orang-orang jahiliyah, walau orang itu mungkin seorang ustadz bahkan profesor. Jangan sampai kita “Fa Innahu Minhum” (kita menjadi golongan mereka) terhadap kejahiliyahan.

Situs eramuslim.com sekurangnya sudah tiga kali memuat tentang organisasi Boedhi Oetomo (BO) dan memaparkan bahwa organisasi ini sama sekali tidak berhak dijadikan tongak kebangkitan nasional karena BO sama sekali tidak pernah mencita-citakan kemerdekaan, pro-penjajahan yang dilakukan Belanda, dan banyak tokohnya anggota aktif Freemasonry yang merupakan organisasi pendahulu dari Zionisme. Seharusnya, tonggak kebangkitan nasional disematkan pada momentum berdirinya organisasi Syarikat Dagang Islam (SDI) yang kemudian berubah menjadi Syarikat Islam (SI) pada tahun 1905, tiga tahun sebelum BO.

Sebab itu, agar kita lagi-lagi tidak salah menganggap tahun 2008 ini sebagai Momentum 1 Abad Kebangkitan Nasional, maka Kami lagi-lagi menurunkan artikel terkait hal tersebut, agar kebenaran tetaplah kebenaran, dan sama sekali tidak akan goyah walau dengan alasan politis sekali pun. Sejarah adalah History, bukan His-Story!

Penghinaan Terhadap Perjuangan Umat Islam

Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam. Karena organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional.

Mengapa BO yang terang-terangan antek penjajah Belanda, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, a-nasionalis, tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, dan anti-agama malah dianggap sebagai tonggak kebangkitan bangsa? Ini jelas kesalahan fatal.

Akhir Februari 2003, sebuah amplop besar pagi-pagi telah tergeletak di atas meja kerja penulis. Pengirimnya KH. Firdaus AN, mantan Ketua Majelis Syuro Syarikat Islam kelahiran Maninjau tahun 1924. Di dalam amplop coklat itu, tersembul sebuah buku berjudul “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa” karya si pengirim. Di halaman pertama, KH. Firdaus AN menulis: “Hadiah kenang-kenangan untuk Ananda Rizki Ridyasmara dari Penulis, Semoga Bermanfaat!” Di bawah tanda tangan beliau tercantum tanggal 20. 2. 2003.

KH. Firdaus AN telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Namun pertemuan-pertemuan dengan beliau, berbagai diskusi dan obrolan ringan antara penulis dengan beliau, masih terbayang jelas seolah baru kemarin terjadi. Selain topik pengkhianatan the founding-fathers bangsa ini yang berakibat dihilangkannya tujuh buah kata dalam Mukadimmah UUD 1945, topik diskusi lainnya yang sangat konsern beliau bahas adalah tentang Boedhi Oetomo.

“BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya, ” tegas KH. Firdaus AN.

BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Perkumpulan ini dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. BO pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk semangnya.

Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekali pun rapat BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka, ” papar KH. Firdaus AN.

Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. ” Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan.

Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging berkata: “Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya... Sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan. ”

Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik BO di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (M. S) Al-Lisan nomor 24, 1938.

Karena sifatnya yang tunduk pada pemerintahan kolonial Belanda, maka tidak ada satu pun anggota BO yang ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Arah perjuangan BO yang sama sekali tidak berasas kebangsaan, melainkan chauvinisme sempit sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura saja telah mengecewakan dua tokoh besar BO sendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya hengkang dari BO.

Bukan itu saja, di belakang BO pun terdapat fakta yang mencengangkan. Ketua pertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalah seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak tahun 1895.

Sekretaris BO (1916), Boediardjo, juga seorang Mason yang mendirikan cabangnya sendiri yang dinamakan Mason Boediardjo. Hal ini dikemukakan dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” (Dr. Th. Stevens), sebuah buku yang dicetak terbatas dan hanya diperuntukan bagi anggota Mason Indonesia.

Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo Kecewa dengan BO

Karena BO tidak pernah membahas kebangsaan dan nasionalisme, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya ternyata anggota Freemasonry. Ini semua mengecewakan dua pendiri BO sendiri yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya akhirnya hengkang dari BO.

Tiga tahun sebelum BO dibentuk, Haji Samanhudi dan kawan-kawan mendirikan Syarikat Islam (SI, awalnya Syarikat Dagang Islam, SDI) di Solo pada tanggal 16 Oktober 1905. “Ini merupakan organisasi Islam yang terpanjang dan tertua umurnya dari semua organisasi massa di tanah air Indonesia, ” tulis KH. Firdaus AN.

Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura—juga hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para pengurusnya pun hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura—sifat SI lebih nasionalis. Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku seperti: Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku.

Guna mengetahui perbandingan antara kedua organisasi tersebut—SI dan BO—maka di bawah ini dipaparkan perbandingan antara keduanya:

Tujuan:

- SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya,

- BO bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran Dasar BO Pasal 2).

Sifat:

- SI bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia,

- BO besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura,

Bahasa:

- SI berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia,

- BO berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda

Sikap Terhadap Belanda:

- SI bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda,

- BO bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda,

Sikap Terhadap Agama:

- SI membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya,

- BO bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkna oleh sejarawan Hamid Algadrie dan Dr. Radjiman)

Perjuangan Kemerdekaan:

- SI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan,

- BO tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telah membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan,

Korban Perjuangan:

- Anggota SI berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul, Irian Barat,

- Anggota BO tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak dan dibuang ke Digul,

Kerakyatan:

- SI bersifat kerakyatan dan kebangsaan,

- BO bersifat feodal dan keningratan,

Melawan Arus:

- SI berjuang melawan arus penjajahan,

- BO menurutkan kemauan arus penjajahan,

Kelahiran:

- SI (SDI) lahir 3 tahun sebelum BO yakni 16 Oktober 1905,

- BO baru lahir pada 20 Mei 1908,

Seharusnya 16 Oktober

Hari Kebangkitan Nasional yang sejak tahun 1948 kadung diperingati setiap tanggal 20 Mei sepanjang tahun, seharusnya dihapus dan digantikan dengan tanggal 16 Oktober, hari berdirinya Syarikat Islam. Hari Kebangkitan Nasional Indonesia seharusnya diperingati tiap tanggal 16 Oktober, bukan 20 Mei. Tidak ada alasan apa pun yang masuk akal dan logis untuk menolak hal ini.

Jika kesalahan tersebut masih saja dilakukan, bahkan dilestarikan, maka saya khawatir bahwa jangan-jangan kesalahan tersebut disengaja. Saya juga khawatir, jangan-jangan kesengajaan tersebut dilakukan oleh para pejabat bangsa ini yang sesungguhnya anti Islam dan a-historis.

Jika keledai saja tidak terperosok ke lubang yang sama hingga dua kali, maka sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia seharusnya mulai hari ini juga menghapus tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dan melingkari besar-besar tanggal 16 Oktober dengan spidol merah dengan catatan “Hari Kebangkitan Nasional”

Baca Selengkapnya......

Indonesia Merdeka Diawali Pekik Allahu Akbar Bukan Haleluya ! {Untold Story}

Seorang Pendeta Barat Simon dalam khutbahnya pernah berkata: "Persatuan Islam merupakan cita-cita utama dari setiap Muslim, yang membuat mereka selalu bisa terlepas dari berbagai pengaruh dunia Barat. Sementara Misionaris, merupakan salah satu unsur yang dapat mencegah timbulnya persatuan Islam. Karena itu, kita wajib dan harus selalu berusaha mengalihkan perhatian kaum Muslimin dari keinginan bersatu."

Seperti halnya Simon, seorang orientalis bemama Lawrence pernah menulis: "Apabila umat Islam bersatu, maka dunia akan terancam bahaya kehancuran total.

Namun mungkin saja, justru bisa terjadi sebaliknya. Sementara jika kaum Muslimin tetap dalam keadaan seperti sekarang, terpecah belah, maka hal tersebut tak akan pernah terjadi. Maka umat Islam harus diupayakan tetap selalu dalam keadaan terpecah-belah.agar mereka tidak memiliki kekuatan yang sanggup mempengaruhi kita."

Begitu cemas mereka akan kebangkitan Islam, sehingga ditempuh agar umat Islam tetap bodoh. Supaya Islam tidak maju maka dengan berbagai cara mereka berusaha mengadu domba umat Islam. Hal ini mereka lakukan lewat ekonomi, politik dan budaya. Buktinya, dalam sebuah buku pedoman Kongres Misionaris sedunia, tertulis: "Sesungguhnya, kaum Muslimin menyadari bahwa dalam masyarakatnya, masih banyak terdapat berbagai permasalahan sosial dan kemasyarakatan yang memerlukan pemecahan. Maka kita para Missionaris dalam melawan Islam, harus dengan senjata intelektual dan spiritual."

Bahkan seorang Orientalis Amerika, WK Smith berpendapat: "Jika kaum Muslimin diberi kebebasan dengan ke-lslamannya, dan hidup dalam naungan demokrasi, maka Islam dengan segera akan mendapat tempat di dalam masyarakat. Namun, jika mereka dipaksa hidup di bawah suatu pemerintahan diktator, maka pemisahan umat Islam dan agamanya pun akan menjadi lebih mudah."

Dalam editorialnya, pemimpin redaksi majalah "TIME" melalui tulisannya "Perjalanan di Asia" telah menyarankan kepada Amerika agar membentuk para diktator militer di negara-negara Islam. Semua ini ditujukan agar mereka dapat dengan segera meredam suara-suara Islam. Yang pada akhirnya, bertujuan agar dunia Barat akan dapat dengan mudah mengalahkan Islam. Dengan syarat, sekali tempo, para rakyat di negara boneka tersebut juga diberi kebebasan, agar mereka tidak merasa tertekan terus menerus.

Di samping membentuk pemerintahan diktator, mereka sedapat mungkin menciptakan kondisi politik agar tidak terlahir pemimpin Islam yang tangguh dan berani menentang Barat yang Yahudi dan Nasrani. Yang ditonjolkan adalah elite-elite yang integritas dirinya diragukan.

Orientalis terkenal, Montgomery Wattt dalam "TIME" terbitan London pernah menulis:.
"Bilamana ada seorang pemimpin Islam yang tangguh, berani bicara dan bertindak sesuai dengan Islam, serta selalu gigih dalam menyuarakan Islam, maka tak dapat disangsikan lagi, akan sangat mudah bagi agama ini, memperlihatkan kekuatan politiknya yang dahsyat ke seluruh dunia." Indonesia Merdeka Diawali Pekik Allahu Akbar, Bukan Haleluya (Al Mawardi Abdul Karim, Jurnal Islam no. 29 Th. I, 8-4 Dzulqa'idah 1421 H / 2-8 Feb, 2001)

Umat Islam di Indonesia saat ini sedang terkecoh. Ibarat panggung Srimulat kita menertawai diri sendiri. Hal ini terjadi, menurut Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq al Habsy, karena umat Islam telah lupa pada hakekat Islam itu sendiri. Dulu ketika Abdurrahman Wahid terpilih menjadi presiden RI kita berharap Syariat Islam berdiri, ternyata tidak. Sekarang orang ramai-rarnai menuntut Abdurrahman turun, lalu Megawati naik jadi presiden. lni lebih parah lagi. Sebab, dalam Islam presiden wanita "haram". Jadi?

"Yang dibutuhkan sekarang ini adalah presiden Islam. Artinya, yang bisa menerapkan Syariat Islam. Karena pada hakekatnya, sejak dulu negara kita ini adalah negara Islam. Coba, kita kembali ke belakang. Saat perjuangan mengusir penjajah dulu diawali dengan pekik, Allahu Akbar! Bukan Haleluya," kata Habib Muhammad Rizieq kepada Jurnal Islam, Selasa (30/1) di kediamannya di Petamburan, Jakarta.

Jadi kalau umat Islam menuntut ditegakkan Syariat Islam adalah sesuatu yang wajar dan menjadi hak Islam yang mayoritas di Indonesia. Yang menjadi persoalan keinginan umat untuk bersyariat tersebut selalu diganjal kaum Kuffar. Berbagai cara dilakukan untuk menggagalkan cita-cita tersebut. Mulai dengan tekanan lewat tangan asing, hingga mengadu domba sesama umat Islam. Yang terakhir ini paling gencar dilakukan. Targetnya supaya umat Islam saling baku hantam, lalu lupa memperjuangkan Syariat Islam.

Beberapa tokoh Islam digosok-gosok supaya saling caci. Gelanggangnya adalah kekuasaan. Baik itu di legislatif maupun eksekutif. Contoh paling aktual yakni perseteruan antara kelompok orde baru dengan rezim baru.

Ada seorang kiai yang sampai 'kelepasan' bicara menghalalkan darah saudaranya, sesama Muslim. Meski pernyataan dia kemudian diralat dan dianggap tidak ada (karena wartawan salah kutip), tetap saja pernyataan itu membawa aroma yang tak sedap. Umat yang kebetulan tidak sempat membaca berita ralat, tetap saja panas, bergemuruh dadanya.

Jauh sebelum ada pernyataan kontroversial seorang kiai yang menghalalkan darah saudaranya sendiri, saya sebetulnya sudah melakukan hal yang sama.Tapi dasar saya jelas. Saya menyerukan yang halal itu darah Benny Moerdani dan Theo Syafe'i. Mengapa? Ya, karena mereka itu sering memusuhi Islam." kata Rizieq.

Menurut Habib Rizieq, dua purnawirawan jendral katolik dan protestan ini jelas-jelas sangat membenci Islam. Theo Syafe'i, misalnya, pada tahun 1998 pernah ceramah di depan jemaatnya, isinya menghasut supaya memusuhi Islam. Theo yang pernah "gagal" jadi duta besar Australia ini keliling ke beberapa wilayah Indonesia Timur untuk "meneriakkan retorika agar jangan takut menghadapi umat Islam. Bila perlu, katanya seperti dalam rekaman kaset yang beredar, kalau perlu masjid-masjid juga dibakar.

Ceramah Theo yang direkam ini transkripnya pernah dirnuat di Taboid Abadi dan Siar.

Sementara Leonardus Benny Moerdani diduga Habib ikut terlibat (sebagai aktor di balik layar, red) dalam berbagai kasus, di antaranya pembantaian di Banyuwangi. Korbannya justru para ulama dan ustadz baik dari NU dan Muhammadiyah. ''Makanya saya waktu itu langsung mengeluarkan fatwa halal membunuh Ninja. Saya sempat dipanggil Mabes Poiri, kenapa mengeluarkan pernyataan tersebut. Saya jawab, karena yang dibunuh para Ninja itu adalah umat Islam," lanjut Habib. Habib menyadari pernyataan tersebut mengandung resiko yang tinggi. Tapi itu harus dilakukan, sebab perbuatan mereka (Ninja) sebagai pelaksana, sudah diluar batas perikemanusiaan.

Justru saat itu FPI belumlahir. Dalam setiap ceramah di depan umat Islam, saya selalu katakan, halal membunuh orang-orang yang memusuhi Islam," katanya tegas. Jadi, fatwa untuk Benny-Theo walau sudah hampir tiga tahun, apakah masih berlaku sampai sekarang. "Masih!" tukasnya.

Baca Selengkapnya......